Selasa, Juni 30, 2009
10 Misteri Otak Manusia yang Belum Terpecahkan
Ada sepuluh misteri yang masih menyelubungi seluk beluk otak manusia. Ilmuwan masih terus mencoba mencari penjelasan ilmiahnya. Tapi tetap saja misteri itu merupakan rahasia kehidupan ciptaan Tuhan yang luar biasa. Berikut 10 misteri seputar otak manusia yang kita alami sehari-hari, tapi tetap kita tak mampu mencari penyebabnya.
1. Kesadaran
Saat bangun di pagi hari, kita tersadar dari tidur. Menikmati sinar matahari dari celah jendela, udara pagi nan sejuk, dan seterusnya. Kita menyebutnya sebagai kesadaran. Bidang ini memicu topik majemuk yang dibahas ilmuwan sejak zaman dulu. Pakar neurologi mutakhir menjabarkan kesadaran sebagai suatu topik riset realistis.
2. Hidup Membeku
Hidup abadi memang hanya ada dalam khayalan manusia. Namun ilmuwan telah menemukan cryonic, temuan yang mampu membuat manusia memiliki dua kehidupan. Salah satu pusat cryonic adalah Alcor Life Extension Foundation, di Arizona, yang menyimpan tubuh mahluk hidup dalam tabung berisi nitrogen cair dengan suhu minud 320 fahrenheit.
Idenya adalah manusia yang sudah meninggal akibat penyakit akan dicairkan dan dihidupkan kembali di masa mendatang saat penyakit itu sudah bisa disembuhkan. jenazah Ted Williams, pemain baseball kenamaan disimpan di sini. Karena teknologinya belum ditemukan, maka penghidupan kembali belum dilakukan. namun tubuhnya sudah “dilelehkan” dengan suhu yang tepat sehingga sel-selnya membeku dan memecah.
3. Misteri Kematian
Bagaimana manusia menjadi tua? manusia terlahir dengan mekanisme tubuh yang mampu bertahan dari penyakit. Itu sebabnya luka bisa sembuh sendiri wanta diobati. Tapi seiring dengan bertambah usia, mekanisme itu menurun. kenapa bisa begitu? Ada dua teori penjelasannya. Pertama, penuaan adalah bagian dari genetika manusia. Kedia, penuaan adalah hasil dari sel-sel tubuh yang rusak.
4. Alam VS Asuhan
Perdebatan tentang pikiran dan kepribadian manusia masih berkutat antara dua hal di atas. Kepribadian dan pemikiran manusia dikatakan dikontrol oleh gen atau lingkungan?Atau bisa jadi keduanya? Masih belum ada kesepakatan di kalangan ilmuwan tentang hal ini.
5. Pemicu Otak
Tertawa adalah hal yang paling sedikit dipahami dari perilaku manusia. Para ilmuwan menemukan bahwa selama tertawa, ada tiga bagian otak yang terlibat. Pertama, bagian yang berpikir sebelum kita memahami suatu gurauan. Kedua, area yang bergerak untuk memberitahu otot kita untuk melakukan sesuatu. Lalu sebuah area emosional yang menggugah perasaan geli.
John Morreall, ilmuwan peneliti humor dari College of William and Mary, menemukan bahwa tertawa adalah respon bermain atas kisah yang tidak sesuai dengan harapan. Tertawa juga mampu menular pada orang lain.
6. Daya Ingat
Beberapa pengalaman sulit dilupakan, sebaliknya kita justru kerap melupakan hal-hal penting. Bagaimana itu bisa terjadi? menggunakan teknik pencitraan otak, ilmuwan menemukan adanya mekanisme yang bertanggungjawab pada penciptaan dan penyimpanan memori. mereka menemukan hippocampus dan materi abu-abu otak yang berperan sebagai kotak memori. Tapi mengapa ada memori yang mudah diingat dan dipukana, masih tetap jadi misteri.
7. Jam Biologis
Otak juga memiliki nukleus suprachiasmatic nucleus alias jam biologi. Bagian ini memprogram tubuh untuk mengikuti irama waktu 24 jam. Jam biologi juga menyesuaikan suhu tubuh, siklus bangun tidur, juga produksi hormon melatonin. Perdebatan terakhir adalah apakah suplemen melatonin mampu mencegah jet lag?
8. Perasaan Dihantui
Diperkirakan 80 persen dari sensasi pengalaman termasuk gatal, tertekan, nyaman dan rasa sakit datang dari bagian tubuh yang hilang. Ada orang yang mengalami adanya organ tubuh mereka yang tidka nampak tapi bisa merasakan. Salah satu penjelasan adalah adanya area syaraf di salah satu organ tubuh yang menciptakan konseksi baru pada saraf tulang belakang dan berlanjut mengirimkan sinyal ke otak.
9. Tidur
Mengapa manusia butuh tidur? Ilmuwan paham bahwa semua mamalia butuh tidur cukup. Tidak cukup tidur berkepanjangan akan menimbulkan halunisasi bahkan kematian. Ada dua tingkatan dalam tidur, yakni tidur yang non-rapid eye movement (NREM), terjadi selama otak memperlihatkan rendahnya aktivitas metabolik. Lalu tidur tingkat rapid eye movement (REM), saat otak masih cukup aktif.
10. Mimpi
Selain tidur, mimpi juga menjadi misteri. Kemungkinannya adalah, bermimpi merupakan latihan otak yang menstimulasi trafik synap antar sel-sel otak. Teori lain mengatakan manusia bermimpi mengenai tugas dan emosinya yang tak sempat diperhatikan selama mereka terjaga di siang hari.
Diterjemahkan secara bebas dari LiveScience.com
Senin, Juni 29, 2009
“Orang Miskin” Tak Pusing dengan Krisis Ekonomi!
Anak Jalanan
Siapa paling menderita jika krisis ekonomi mendera? Kalau versi Presiden Bank Dunia, Robert Zoellick, krisis ekonomi global dapat sangat merugikan penduduk miskin di negara-negara berkembang. Bank Dunia menaksir harga pangan dan energi yang tinggi telah mendorong 100 juta orang lagi ke lembah kemiskinan tahun ini saja.
Agaknya Zoellick tak pernah turun ke lapangan seperti saya, sesama rakyat jelata Indonesia, negara yang katanya berkembang tapi kerap disandingkan dengan sejumlah negara miskin Afrika dalam sejumlah literatur yang saya baca. Sebab nyatanya, orang miskin itu tak kena dampak apapun atas krisis ekonomi global. Siapa rakyat miskin yang saya maksud? Mereka adalah gelandangan, pengemis, pengamen, anak jalanan, yang tak punya tempat tinggal, tak sekolah, dan entah bagaimana masa depannya.
Adakah artinya nilai rupiah anjlok atau bahkan terjadi devaluasi sekalipun bagi mereka? Apakah jika dolar turun maka mereka akan bisa kuliah dan berbelanja di butik mahal? Apakah jika rupiah anjlok, mereka akan mati bunuh diri? Tidak. Bagi kalangan orang seperti mereka, krisis atau tidak krisis sama sekali tak ada artinya.
Siapa Si Miskin?
Justru yang kena dampak paling heboh dalam situasi krisis adalah kalangan menengah. Kalangan yang dibilang kaya tapi masih naik turun bis kota dan tersiksa macet, terancam copet dan penodong. Tapi tak bisa disebut miskin, sebab mereka bisa mengecap pendidikan tinggi, memiliki laptop dan ponsel, sesekali menikmati Starbucks. Ini yang saya sebut sebagai kalangan “nanggung”.
“Kalau orang kaya, saat krisis begini gampang saja, tinggal alokasikan kekayaannya ke properti atau emas atau dolar, agar bisa selamat. Nah kita, tabungan cuma beberapa juta doang, boro-boro mau beli properti atau emas, diambil sekarang juga langsung habis,” keluh seorang teman yang masuk golongan nanggung itu.
Mungkin kita perlu lebih menjelaskan apa yang dimaksud dengan “orang miskin”. Pada pidato kenegaraan 18 Agustus lalu, Presiden SBY dengan bangga mengatakan bahwa populasi rakyat miskin sudah bisa ditekan. Saya kok seperti mendengar lawakan Srimulat, sebab faktanya anak-anak jalanan yang berkeliaran mengamen di jam sekolah kian membludak. Copet, preman, pengangguran, berita kriminal, kian marak menghiasi hidup keseharian.
Saya tertawa geli membaca tulisan di bawah ini.
Bank Dunia dan Bappenas mencatat, penduduk miskin turun separuh sejak 1997, sampai 2003. Pada 2003, Bappenas mencatat, jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan tinggal 17,4% dari total orang miskin sebanyak 37,3 juta orang. Survei Bappenas ini memakai standar internasional, yaitu penduduk yang mempunyai pendapatan kurang dari US$ 1 per hari, dan patokan harga-harga yang dipakai adalah saat krisis pada 1998.(Tempo).
Kenali “Musuhmu”
Jadi, siapa saja yang berpendapatan lebih dari 1 dolar AS sehari adalah orang kaya? Hei, 1 dolar AS itu kini hanya sekitar Rp. 9000-10.000. Ok, kita bulatkan saja jadi Rp.10.000. Jika dikalikan 30 hari artinya Rp.300.000. Berarti Bappenas mengategorikan mereka yang berpenghasilan Rp.301.000 per bulan adalah orang kaya? Apakah orang Bappenas tahu bahwa untuk mengontrak rumah sederhana saja paling tidak butuh Rp.250.000. Sisanya Rp.50.000 harus cukup untuk makan sebulan dan itu artinya dia sudah kaya? Apakah orang Bappenas mau digaji Rp.310.000 dan dianggap sudah kaya??? Serendah itukah kualitas hidup manusia Indonesia?
Bagaimana pemerintah bisa memperbaiki kondisi rakyat kita, jika mendefinisikan orang miskin saja tidak sanggup? Lalu bagaimana dengan gelandangan dan pengemis di kolong jembatan yang bahkan bisa jadi penghasilannya lebih dari Rp.300.000 sebulan tapi tetap tidak masuk kategori miskin versi pemerintah?
Kabarnya kemiskinan adalah musuh bersama yang layak diperangi. Tapi untuk mengenali musuh itu sendiri saja pemerintah tidak mampu. Ironis!
BAHASA BANJAR
Pengantar
Bahasa Banjar banyak dipengaruhi oleh bahasa Melayu, Jawa dan bahasa-bahasa Dayak.
Bahasa Banjar atau sering pula disebut Bahasa Melayu Banjar terdiri atas dua kelompok
dialek yaitu;
• Bahasa Banjar Hulu
• Bahasa Banjar Kuala
2. Orang Tanjung dari bekas Distrik Tabalong di hulu Daerah Aliran Sungai Tabalong,
Kabupaten Tabalong.
3. Orang Lampihong/Orang Balangan dari bekas Distrik Balangan (Paringin) di Daerah
Aliran Sungai Balangan, Kabupaten Balangan.
4. Orang Amuntai dari bekas Distrik Amuntai di Hulu Sungai Utara.
5. Orang Alabio dari bekas Distrik Alabio di Hulu Sungai Utara.
6. Orang Alai dari bekas Distrik Batang Alai di Daerah Aliran Sungai Batang Alai, Hulu
Sungai Tengah
7. Orang Pantai Hambawang/Labuan Amas dari bekas Distrik Labuan Amas di Daerah
Aliran Sungai Labuan Amas Hulu Sungai Tengah
8. Orang Negara dari bekas Distrik Negara di tepi Sungai Negara, Hulu Sungai Selatan.
9. Orang Kandangan dari bekas Distrik Amandit di Daerah Aliran Sungai Amandit, Hulu
Sungai Selatan
10. Orang Margasari dari bekas Distrik Margasari di Kabupaten Tapin
11. Orang Rantau dari bekas Distrik Benua Empat di Daerah Aliran Sungai Tapin,
Kabupaten Tapin
12. dan lain-lain
2. Haruai
3. Tanjung
4. Tanta
5. Kelua
6. Banua Lawas
7. Amuntai Utara
8. Amuntai Tengah
9. Amuntai Selatan
10. Danau Panggang
11. Babirik
12. Sungai Pandan (Alabio)
13. Batu Mandi
14. Lampihong
15. Awayan
16. Paringin
17. Juai
18. Batu Benawa
19. Haruyan
20. Batang Alai Selatan
21. Batang Alai Utara
22. Barabai
23. Pandawan
24. Labuan Amas Selatan
25. Labuan Amas Utara
26. Angkinang
27. Kandangan
28. Simpur
29. Daha Selatan (Negara)
30. Daha Utara
31. Sungai Raya
32. Telaga Langsat
33. Padang Batung
34. Candi Laras Utara (Margasari Hulu)
35. Candi Laras Selatan (Margasari Hilir)
36. Tapin Selatan
37. Tapin Tengah
38. Tapin Utara
39. Binuang
Bahasa Banjar
Bahasa Banjar Hulu vs Bahasa Banjar Kuala
• gamat (Banjar Hulu), gémét (Banjar Kuala); artinya pelan
• miring (Banjar Hulu), méréng (Banjar Kuala); artinya miring
• himpat, tawak, tukun, hantup (Banjar Hulu), hamput (Banjar Kuala); artinya lempar (sambit)
• arai (Banjar Hulu), himung (Banjar Kuala); artinya gembira
• hagan (Banjar Hulu), gasan (Banjar Kuala); artinya untuk
• tiring (Banjar Hulu), lihat (Banjar Kuala); artinya melihat
• bungas (Banjar Hulu), langkar, béngkéng (Banjar Kuala); artinya cantik
• tingau (Banjar Hulu), lihat (Banjar Kuala); artinya toleh, lihat
• balalah (Banjar Hulu), bakunjang (Banjar Kuala); artinya bepergian
• lingir (Banjar Hulu), tuang (Banjar Kuala); artinya tuang
• tuti (Banjar Hulu), tadi (Banjar Kuala); artinya tadi
• ba-ugah (Banjar Hulu), ba-jauh (Banjar Kuala); artinya menjauh
• macal (Banjar Hulu), nakal (Banjar Kuala); artinya nakal
• balai (Banjar Hulu), langgar (Banjar Kuala); artinya surau
• tutui (Banjar Hulu), catuk (Banjar Kuala); artinya memukul dengan palu
• tukui (Banjar Hulu), periksa (Banjar Kuala); artinya memeriksa
• padu (Banjar Hulu), dapur (Banjar Kuala); artinya ruang dapur
• kau'u (Banjar Hulu), nyawa (Banjar Kuala); artinya kamu
• diaku (Banjar Hulu), unda (Banjar Kuala); artinya aku
• disia (Banjar Hulu), disini (Banjar Kuala); artinya disini
• bat-ku, anggit-ku (Banjar Hulu), ampun-ku (Banjar Kuala); artinya punya-ku
• bibit (Banjar Hulu), ambil (Banjar Kuala); artinya ambil
• ba-cakut (Banjar Hulu), ba-kalahi (Banjar Kuala); artinya berkelahi
• ba-cakut (Banjar Hulu), ba-ingkut (banjar Kuala); artinya berpegangan pada sesuatu benda
• diang (Banjar Hulu), galuh (Banjar Kuala); artinya panggilan anak perempuan
• nini laki (Banjar Hulu), kayi (Banjar Kuala); artinya kakek
• utuh (Banjar Hulu), nanang (Banjar Kuala); artinya panggilan anak lelaki
• uma (Banjar Hulu), mama (Banjar Kuala); artinya ibu
• hingkat (Banjar Hulu), kawa (Banjar Kuala); artinya dapat, bisa
• puga (Banjar Hulu), hanyar (Banjar Kuala); artinya baru
• salukut (Banjar Hulu), bakar (Banjar Kuala); artinya bakar
• kasalukutan, kamandahan (Banjar Hulu), kagusangan (Banjar Kuala); artinya kebakaran
• tajua (Banjar Hulu), ampih (Banjar Kuala); artinya berhenti
• bapandir (Banjar Hulu), bepéndér (Banjar Kuala); artinya berbicara
• acil laki (Banjar Hulu), amang, paman (Banjar Kuala); artinya paman
Contoh Dialek Banjar Hulu
• Hagan apa hampiyan mahadang di sia, hidin hudah hampai di rumah hampian (Dialek
Kandangan?)
• Sagan apa sampiyan mahadang di sini, sidin sudah sampai di rumah sampiyan. (Banjar
populer)
• Inta intalu sa’igi, imbah itu ambilakan buah nang warna abang awan warna ijau sa’uting
dua uting. Jangan ta’ambil nang igat (Dialek Amuntai?)
• Minta hintalu sabigi, limbah itu ambilakan buah nang warna habang lawan warna hijau
sabuting dua buting. Jangan ta’ambil nang rigat.(Banjar populer)
Perbedaan Dialek
Dialek kawasan berbeda dari segi:
• Sebutan
Contoh: Perkataan gimit (pelan) disebut dalam pelbagai dialek seperti gamat, gimit, gemet.
• Gaya lagu bahasa
Contoh: Subdialek Kalua biasanya mempunyai sebutan yang lebih panjang daripada
Subdialek Banjarmasin.
• Tatabahasa
Contoh: kuriak-kuriak (dialek Banjar Kuala) dan kukuriak (dialek Banjar Hulu).
• Kosa kata
Contoh: hungku (dialek Kabupaten Balangan) maksudnya agaknya.
• Kata ganti diri
Contoh : kao (dialek utara Kalsel maksudnya kamu) dan unda (dialek selatan Kalsel
bermaksud aku)
Penulisan Resmi
Bahasa sastra dan wayang Banjar
Tingkatan Bahasa
Bahasa Banjar juga mengenal tingkatan bahasa (Jawa: unggah-ungguh), tetapi hanya untuk
kata ganti orang.
• unda, sorang = aku ; nyawa = kamu ---> (agak kasar)
• aku, diyaku = aku ; ikam, kawu = kamu ---> (netral, sepadan)
• ulun = saya ; (sam)piyan / (an)dika = anda --->(halus)
untuk kata ganti orang ke-3 (dia)
• inya, iya, didia = dia --->(netral,sepadan)
• sidin = beliau --->(halus)
Bilangan
• asa (satu)
• dua (dua)
• talu (tiga)
• ampat (empat)
• lima (lima)
• anam (enam)
• pitu (tujuh)
• walu (delapan)
• sanga (sembilan)
• sapuluh (sepuluh)
• sawalas (sebelas)
• pitungwalas (tujuhbelas)
• salawi (duapuluh lima)
• talungpuluh (tigapuluh)
• anampuluh (enampuluh)
• walungpuluh (delapanpuluh)
• saratus (seratus)
• saribu (seribu)
• sajuta (sejuta)
(Bilangan angka dalam bahasa Banjar mirip bilangan dalam bahasa Jawa Kuno)
Aksara
Penulisan bahasa Banjar pada zaman dahulu dalam aksara Arab Melayu (Jawi) misalnya;
• sastera sejarah/mitos seperti Hikayat Banjar
• peraturan kerajaan seperti Undang-Undang Sultan Adam 1825.
• perjanjian-perjanjian antara Kerajaan Banjar dengan bangsa lain.
• kitab-kitab agama Islam
• karya sastera lainnya seperti syair :
• Syair Brahma Syahdan karya Gusti Ali Basyah Barabai
• Syair Madi Kencana karya Gusti Ali Basyah Barabai
• Syair Teja Dewa karya Anang Mayur Babirik
• Syair Nagawati karya Anang Mayur Babirik
• Syair Ranggandis karya Anang Ismail Kandangan
• Syair Siti Zubaidah karya Anang Ismail Kandangan
• Syair Tajul Muluk karya Kiai Mas Dipura Martapura
• Syair Intan Permainan (anonim)
• Syair Nur Muhammad karya Gusti Zainal Marabahan
• Syair Ibarat karya Mufti Haji Abdurrahman Siddik Al-Banjary
• Syair Burung Simbangan
• Syair Burung Bayan dengan Burung Karuang
Hikayat Banjar
Hikayat Banjar pernah diteliti oleh Johannes Jacobus Ras, orang Belanda kelahiran Rotterdam tahun 1926 untuk disertasi doktoralnya di Universitas Leiden. Promotornya adalah Dr. A. Teeuw.
Sepenggal kisah dalam Hikayat Banjar:
Bandjar: A Study in Malay Historiography)
Perbandingan Bahasa Banjar dan Bahasa Bukit
• tawing (Banjar), dinding (Dayak Bukit); artinya dinding
• banih (Banjar), padi (Dayak Bukit); artinya padi
• anum (Banjar), muda (Dayak Bukit); artinya muda
• lawang (Banjar), pintu (Dayak Bukit); artinya pintu
• janar (Banjar), kunyit (Dayak Bukit); artinya kunyit
• hayam (Banjar), hayam, hamanuk (Dayak Bukit); artinya ayam
• aruh (Banjar Hulu), aruh (Dayak Bukit); artinya kenduri, selamatan
• ganal (Banjar), ganal (Dayak Bukit); artinya besar
• bukah (Banjar), bukah (Dayak Bukit); artinya lari
• hual (Banjar), hual (Dayak Bukit); artinya tengkar
Pengaruh Bahasa Jawa
• lawas (Banjar), lawas (Jawa); artinya lama
• habang (Banjar), abang (Jawa); artinya merah
• hirang (Banjar), ireng (Jawa); artinya hitam
• halar(Banjar), lar (Jawa); artinya sayap
• halat (Banjar), lat (Jawa); artinya pisah
• banyu (Banjar), banyu (Jawa); artinya air
• sam(piyan) (Banjar), sampeyan(Jawa); artinya kamu (halus)
• an(dika) (Banjar Hulu), andiko (Jawa); artinya kamu (halus)
• picak (Banjar), picek (Jawa); artinya buta
• sugih (Banjar), sugih (Jawa); artinya kaya
• licak (Banjar), licek (Jawa); artinya becek
• baksa (Banjar), beksan (Jawa); artinya tari
• kiwa (Banjar), kiwo (Jawa); artinya kiri
• rigat (Banjar), reged(Jawa); artinya kotor
• kadut (Banjar), kadut (Jawa); artinya kantong uang
• padaringan (Banjar), pendaringan (Jawa); artinya wadah beras
• dalam (Banjar), dalem (Jawa); artinya rumah bangsawan
• iwak (Banjar), iwak (Jawa); artinya ikan
• awak (Banjar), awak (Jawa); artinya badan
• ba-lampah (Banjar), nglampahi (Jawa); artinya bertapa
• ba-isuk-an (Banjar), isuk-isuk (Jawa); artinya pagi-pagi
• ulun (Banjar), ulun (Jawa); artinya aku (halus), (aku untuk Dewa, Jawa)
• jukung (Banjar), jukung (Jawa); artinya sampan
• kalir (Banjar), kelir (Jawa); artinya warna
• tapih (Banjar), tapeh (Jawa); artinya sarung, jarik
• lading (Banjar), lading (Jawa); artinya pisau
• reken (Banjar), reken (Jawa); artinya hitung
• kartak (Banjar), kertek (Jawa); artinya jalan raya
• ilat (Banjar), ilat (Jawa); artinya lidah
• gulu (Banjar), gulu (Jawa); artinya leher
• kilan (Banjar), kilan (Jawa); artinya jengkal
• kawai, ma-ngawai (Banjar), ngawe-awe (Jawa); artinya me-lambai
• ngaran (Banjar), ngaran (Jawa); artinya nama
• paranah (Banjar), pernah (Jawa); artinya...(contoh pernah nenek)
• pupur (Banjar), pupur (Jawa); artinya bedak
• parak (Banjar), perek (Jawa); artinya dekat
• wayah (Banjar), wayah (Jawa); artinya saat
• uyah (Banjar), uyah (Jawa); artinya garam
• paring (Banjar), pring(Jawa); artinya bambu
• gawi(Banjar), gawe (Jawa); artinya kerja
• palir(Banjar), peli (Jawa); artinya zakar
• lawang (Banjar), lawang (Jawa); artinya pintu
• menceleng (Banjar), menteleng (Jawa); artinya melotot
• kancing (Banjar), kancing (Jawa); artinya menutup pintu
• apam (Banjar), apem(Jawa); artinya nama sejenis makanan
• gangan (Banjar), jangan (Jawa); artinya sayuran berkuah
• kaleker (Banjar), kleker (Jawa); artinya gundu, kelereng
• karap (Banjar), kerep (Jawa); artinya sering, kerapkali
• sarik (Banjar), serik (Jawa); artinya marah
• sangit (Banjar), sengit (Jawa); artinya marah
• pakan (Banjar), peken (Jawa); artinya pasar mingguan
• inggih (Banjar), inggih (Jawa); artinya iya (halus)
• wani (Banjar), wani (Jawa); artinya berani
• wasi (Banjar), wesi (Jawa); artinya besi
• waja (Banjar), wojo (Jawa); artinya baja
• dugal (Banjar), ndugal (Jawa); artinya nakal
• bungah (Banjar), bungah (Jawa); artinya bangga
• gandak (Banjar), gendak (Jawa); artinya pacar, selingkuhan
• kandal(Banjar), kandel (Jawa); artinya tebal
• langgar (Banjar), langgar (Jawa); artinya surau
• gawil (Banjar), jawil (Jawa); artinya colek
• wahin (Banjar), wahing (Jawa); artinya bersin
• panembahan (Banjar), panembahan (Jawa); artinya raja, yang disembah/dijunjung
• larang (Banjar), larang (Jawa); artinya mahal
• anum (Banjar), enom (Jawa); artinya muda
• bangsul (Banjar), wangsul (Jawa); artinya datang, tiba
• mandak (Banjar), mandeg (Jawa); artinya berhenti
• marga (Banjar), mergo (Jawa); artinya sebab, karena
• payu (Banjar), payu (Jawa); artinya laku
• ujan (Banjar), udan (Jawa); artinya hujan
• hibak (Banjar), kebak (Jawa); artinya penuh
• gumbili (Banjar), gembili (Jawa); artinya ubi singkong
• lamun (Banjar), lamun (Jawa); artinya kalau
• tatamba (Banjar), tombo (Jawa); artinya obat
• mara, ba-mara (Banjar), moro (Jawa); artinya maju, menuju muara
• lawan (Banjar), lawan (Jawa); artinya dengan
• maling (Banjar), maling (Jawa); artinya pencuri
• jariji (Banjar), deriji (Jawa); artinya jari
• takun (Banjar), takon (Jawa); artinya tanya
• talu (Banjar), telu (Jawa); artinya tiga
• pitu (Banjar), pitu (Jawa); artinya tujuh
• walu (Banjar), walu (Jawa); artinya delapan
• untal (Banjar), nguntal (Jawa); artinya makan (makan tanpa dimamah, Banjar)
• pagat (Banjar), pegat (Jawa); artinya putus (putusnya tali pernikahan, Jawa)
• kawo (Banjar Amuntai), kowe (Jawa), kaoh (Bawean); artinya kamu
• paray(a) (Banjar), prei-i (Jawa); artinya libur, tidak jadi (Belanda?)
• dampar (Banjar), dampar kencono (Jawa); artinya bangku kecil,(singasana, Jawa)
• burit, buritan (Banjar), mburi (Jawa); artinya belakang, (pantat, Banjar)
• pajah (Banjar), pejah (Jawa); artinya mati (mati lampu, Banjar)
• tatak (Banjar), tetak (Jawa); artinya potong (khitan, Jawa)
• pa-pada-an (Banjar), podo-podo (Jawa); artinya sama, sesama
• candi (Banjar), candi (Jawa); artinya candi
Rujukan
Abdul Djebar Hapip, Kamus Banjar Indonesia, Banjarmasin, Indonesia, PT. Grafika Wangi
Kalimantan, 2006.
Minggu, Juni 28, 2009
Ethos Kerja Orang Indonesia, Untuk Siapa?
Dikatakan bahwa keberhasilan di berbagai wilayah kehidupan ditentukan oleh sikap, perilaku dan nilai-nilai yang diadopsi individu-individu manusia di dalam komunitas atau konteks sosialnya.
Melalui pengamatan terhadap karakteristik masyarakat di bangsa-bangsa yang mereka pandang unggul, para peneliti menyusun daftar tentang ciri-ciri etos kerja yang penting. Misalnya etos kerja Bushido dinilai sebagai faktor penting dibalik kesuksesan ekonomi Jepang di kancah dunia. Etos kerja Bushido ini mencuatkan tujuh prinsip, yakni:
• Gi - keputusan yang benar diambil dengan sikap yang benar berdasarkan kebenaran; jika harus mati demi keputusan itu, matilah dengan gagah, sebab kematian yang demikian adalah kematian yang terhormat
• Yu - berani dan bersikap kesatria
• Jin - murah hati, mencintai dan bersikap baik terhadap sesama
• Re - bersikap santun, bertindak benar
• Makoto - bersikap tulus yang setulus-tulusnya, bersikap sungguh dengan sesungguh-sungguhnya dan tanpa pamrih
• Melyo - menjaga kehormatan, martabat dan kemuliaan, serta
• Chugo - mengabdi dan loyal.
Begitu pula keunggulan bangsa Jerman, menurut para sosiolog, terkait erat dengan etos kerja Protestan, yang mengedepankan enam prinsip :
• bertindak rasional,
• berdisiplin tinggi,
• bekerja keras,
• berorientasi pada kekayaan material,
• menabung dan berinvestasi, serta
• hemat, bersahaja dan tidak mengumbar kesenangan.
Pertanyaannya kemudian adalah seperti apa etos kerja bangsa Indonesia ini. Apakah etos kerja kita menjadi penyebab dari rapuh dan rendahnya kinerja sistem sosial, ekonomik dan kultural, yang lantas berimplikasi pada kualitas kehidupan?
Ethos Kerja Indonesia
Ataukah etos kerja yang kita miliki sekarang ini merupakan bagian dari politik republik tercinta? Dalam buku “Manusia Indonesia” karya Mochtar Lubis yang diterbitkan sekitar seperempat abad yang lalu, diungkapkan adanya karakteristik etos kerja tertentu yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Beberapa di antara ciri-ciri itu adalah: munafik; tidak bertanggung jawab; feodal; percaya pada takhyul; dan lemah wataknya. Beliau tidak sendirian. Sejumlah pemikir/budayawan lain menyatakan hal-hal serupa. Misalnya, ada yang menyebut bahwa bangsa Indonesia memiliki ‘budaya loyo,’ ‘budaya instan,’ dan banyak lagi.
Hasil pengamatan para cendekia tersebut tentu ada kebenarannya. Tetapi tentunya bukan maksud mereka untuk membuat final judgement terhadap bangsa kita. Pernyataan-pernyataan mereka perlu kita sikapi sebagai suatu teguran dan peringatan yang serius. Jika ciri-ciri etos kerja sebagaimana diungkapkan dalam “Manusia Indonesia” kita sosialisasikan, tumbuh kembangkan dan pelihara, maka berarti kita bergerak mundur beberapa abad ke belakang.
Tanpa bermaksud terlarut dalam kejayaan masa lalu, sejarah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memiliki prestasi yang patut dihargai dalam perjalanannya. Tegaknya candi Borobudur dan puluhan yang lainnya hanya mungkin terjadi dengan dukungan etos kerja yang bercirikan disiplin, kooperatif, loyal, terampil rasional (sampai batas tertentu), kerja keras, dan lain-lain.
Berkembang luasnya pengaruh kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit, Samudra Pasai, Mataram, Demak, dengan berbagai perangkat dan infrastruktur teknologis maupun sosial dalam pengelolaan kenegaraannya, juga mempersyaratkan adanya suatu etos kerja tertentu yang patut dihargai. Selain ini, pesantren-pesantren yang sampai kini masih bertahan dan berkembang, memiliki akar pertumbuhan pada beberapa abad yang lalu, yang menunjukkan bahwa tradisi belajar-mengajar telah menjadi bagian kehidupan masyarakat Tanah Air jauh sebelum bangsa Belanda mengunjungi kita.
Kita juga mengenal slogan-slogan yang, setidaknya dulu, pernah menjadi cerminan suatu etos kehidupan, seperti: Bhinneka Tunggal Ika; Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangung Karso, Tut Wuri Handayani; Menang Tan Ngasorake; Niteni, Niroake, Nambahake.
Ini mencerminkan etos kerja dalam konteks kehidupan sosial yang penting dalam membangun persatuan, leadership, dan bahkan untuk berinovasi. Masih banyak lagi slogan-slogan yang berlaku dan terkenal di berbagai daerah-daerah di Tanah Air.Sejarah bangsa Indonesia dapat menjadi salah sebuah sumber penting bagi kita untuk menggali, memahami dan membangun etos kerja bangsa kita. Hanya saja, perhatian pada sejarah tak jarang dimotivasi oleh dorongan-dorongan apologetik, atau menjadi ‘pelarian’ dari tantangan-tantangan yang kita hadapi hari ini. Jika potensi sejarah ini tidak dimanfaatkan secara optimal, ini bisa berimplikasi keterasingan bangsa akan dirinya sendiri. Lebih jauh, ini bisa membuat kita asing terhadap etos kerja bangsa kita sendiri.
Nalar
Sebagaimana disimpulkan oleh para peneliti sosiologi dan manajemen, etos kerja merupakan bagian penting dari keberhasilan manusia, baik dalam komunitas kerja yang terbatas, maupun dalam lingkungan sosial yang lebih luas. Keberhasilan ini bukan hanya dikarenakan adanya pengetahuan dan kemampuan menggunakan nalar, tetapi juga kemampuan mengarahkan pengetahuan dan aktivitas penalaran menuju pada kebaikan, baik kebaikan individu maupun kelompok. Ini yang menjadi ciri penting dalam etos Bushido. Tetapi, kutipan berikut ini mengingatkan kita tentang aspek penting lain dari etos kerja.“. . . [A] human being regarded as a person, that is, as the subject of a morally practical reason, is exalted above any price; for as a person (homo noumenon) he is not to be valued merely as a means to the ends of others or even to his own ends, but as as an end in himself; that is, he possesses a dignity (an absolute inner worth) by which he exacts respect for himself from all other rational beings in the world.” 1a* Immanuel Kant. The Metaphysics of Morals. Ketika kita membicarakan etos kerja, atau prinsip-prinsip etika ataupun norma, perlu kita sadari sasaran mendasar yang menjadi tujuan pengembangan etos tersebut.
Dalam kutipan di atas, Kant, seorang Bapak filosofi modern, menekankan pentingnya menempatkan manusia dan kemanusiaan sebagai sebuah sasaran pengembangan etos kerja. Artinya, pembicaraan etos kerja dan manajemen perubahan haruslah memberi penekanan pada arti penting dari manusia itu sendiri sebagai tujuan perubahan, bukan manusia sebatas sebagai SDM atau sebagai sarana produksi.Kedua, meskipun nalar memiliki keterbatasan, uraian Calne dalam bukunya Within Reason sama sekali tidak menyarankan bahwa kita tidak perlu menggunakan nalar untuk bisa bekerja lebih baik ataupun hidup lebih baik.
Yang penting adalah kita menyadari kembali sebuah fungsi penting dari nalar, yaitu mengarahkan dan menghasilkan kehendak yang betul-betul baik. Kehendak baik ini bukan menjadi tujuan perantara, tetapi menjadi tujuan akhir itu sendiri dari penggunaan nalar, sebagaimana dinyatakan dalam pernyataan Kant Berikut ini: “. . . [Reason's] true function must be to produce a will which is good, not as a means to some further end, but in itself . . . ” Immanuel Kant (1724-1804). Groundwork of the Metaphysic of Morals Sebagai penutup, mari kita akhiri pembahasan tentang pengembangan etos kerja dalam artikel ini dengan merenungkan pesan yang terkandung dalam sebuah kutipan dari sosiolog humanis Eric Fromm berikut ini: Immature love says: ”I love you because I need you.” Mature love says: ”I need you because I love you.”

